Minggu, 24 Juni 2012

PERSIBA BALIKPAPAN

 


Logo Persiba Nama lengkap Persatuan Sepak Bola Indonesia
Balikpapan Julukan Beruang Madu,
Selicin Minyak Didirikan 1950 Stadion Stadion Persiba,
Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia
(Kapasitas: 15.000) Ketua Umum Bendera Indonesia H. Syahril HM Taher Bendahara Bendera Indonesia Anti Satiaty Pelatih Bendera Inggris Peter Butler Asisten Pelatih Bendera Indonesia Otnel Udan Dokter Tim Bendera Indonesia Dr. Cokorda Ratih Liga Liga Super Indonesia 
Kostum kandang
Kostum tandang

Persiba Balikpapan atau Persatuan Sepak Bola Indonesia Balikpapan merupakan sebuah tim sepak bola yang bermarkas di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia, yang didirikan pada tahun 1950. Tim ini memiliki julukan sebagai tim Beruang Madu (maskot Kota Balikpapan), atau dikenal pula dengan julukan tim balistik. Suporter Persiba Balikpapan dinamakan Gasper.
Pada tahun 2011, Persiba diketuai oleh H. Syahril HM Taher. Manajer Umum Persiba saat ini adalah Ir. Jamal Al-Rasyid, MM. Sedangkan pelatih Persiba Balikpapan sekarang adalah Peter Butler asal Inggris, menggantikan Hariadi.

Skuat

Per 14 December 2011..[1]
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional pemain sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat saja mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan.
No.
Pos.Nama
1Bendera IndonesiaGKYanuar Tri Firmanda
2Bendera IndonesiaMFDwi Joko Prihatin
5Bendera IndonesiaDFAbsor Fauzi
6Bendera IndonesiaMFAsri Akbar
7Bendera UruguayMFEsteban Guillén
8Bendera IndonesiaMFAhmad Sembiring Usman
9Bendera JepangFWKenji Adachihara
12Bendera IndonesiaDFSupriyadi
13Bendera IndonesiaMFSyaiful Lewenusa
14Bendera IndonesiaMFAbdul Hamid Mony
15Bendera IndonesiaGKI Made Wirawan
17Bendera ParaguayFWAldo Barreto Kapten
18Bendera JepangMFShohei Matsunaga

No.
Pos.Nama
19Bendera IndonesiaDFIqbal Samad
22Bendera IndonesiaFWSultan Samma
23Bendera IndonesiaMFMuhammad Bahtiar
24Bendera IndonesiaFWEki Nurhakim
25Bendera IndonesiaGKAhmadi
26Bendera KroasiaDFTomislav Labudović
28Bendera IndonesiaMFStevanus Bungaran
29Bendera IndonesiaDFHandi Hamzah
33Bendera IndonesiaDFHari Prayogi
39Bendera IndonesiaMFHerry Susilo
77Bendera IndonesiaDFRachmat Latief
-Bendera IndonesiaDFSoleman Lubis (pinjaman dari Persija Jakarta)

Jumat, 15 Juni 2012

sabu sabu

Nama aslinya methamphetamine. Berbentuk kristal seperti gula atau bumbu penyedap masakan. Jenisnya antara lain yaitu gold river, coconut dan kristal. Sekarang ada yang berbentuk tablet.
Obat ini dapat di temukan dalam bentuk kristal dan obat ini tidak mempunyai warna maupaun bau, maka ia di sebut dengan kata lain yaitu Ice. Shabu-shabu juga di kenal dengan julukan lain seperti : Glass, Quartz, Hirropon, Ice Cream.

Obat ini juga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap syaraf.
Si pemakai shabu-shabu akan selalu bergantung pada obat bius itu dan akan terus berlangsung lama, bahkan bisa mengalami sakit jantung atau bahkan kematian.
Dikonsumsi dengan cara membakarnya di atas aluminium foil sehingga mengalir dari ujung satu ke arah ujung yang lain. Kemudian asap yang ditimbulkannya dihirup dengan sebuah Bong (sejenis pipa yang didalamnya berisi air). Air Bong tersebut berfungsi sebagai filter karena asap tersaring pada waktu melewati air tersebut. Ada sebagian pemakai yang memilih membakar Sabu dengan pipa kaca karena takut efek jangka panjang yang mungkin ditimbulkan aluminium foil yang terhirup.
Efek yang ditimbulkan :
- Menjadi bersemangat
- Gelisah dan tidak bisa diam
- Tidak bisa tidur
- Tidak bisa makan
- Jangka panjang: fungsi otak terganggu dan bisa berakhir dengan kegilaan.
- Paranoid
- Lever terganggu
Gejala pecandu yang putus obat:
- Cepat marah
- Tidak tenang
- Cepat lelah
- Tidak bersemangat/ingin tidur terus

ekstasi


Ekstasi dapat membuat tubuh si pemakai memiliki energi yang lebih dan juga bisa mengalami dehidrasi yang tinggi. Sehingga akibatnya dapat membuat tubuh kita untuk terus bergerak. Beberapa orang yang mengkonsumsi ekstasi di temukan meninggal karena terlalu banyak minum air dikarenakan rasa haus yang amat sangat.
Ekstasi akan mendorong tubuh untuk melakukan aktivitas yang melampaui batas maksimum dari kekuatan tubuh itu sendiri. Kekeringan cairan tubuh dapat terjadi sebagai akibat dari pengerahan tenaga yang tinggi dan lama.
Efek yang ditimbulkan oleh pengguna ekstasi adalah:
Diare, rasa haus yang berlebihan, hiperaktif, sakit kepala dan pusing, menggigil yang tidak terkontrol, detak jantung yang cepat dan sering, mual disertai muntah-muntah atau hilangnya nafsu makan, gelisah/tidak bisa diam, pucat & keringat, dehidrasi, mood berubah. Akibat jangka panjangnya adalah kecanduan, syaraf otak terganggu, gangguan lever, tulang dan gigi kropos.
Beberapa pemakai ekstasi yang akhirnya meninggal dunia karena terlalu banyak minum akibat rasa haus yang amat sangat. Zat-zat kimia yang berbahaya sering dicampur dalam tablet atau kapsul ekstasi. Zat-zat ini menyebabkan munculnya suatu reaksi yang pada tubuh. Dan dalam beberapa kasus, reaksi dari zat-zat ini akan menimbulkan kematian. Pengguna ekstasi sering harus minum obat-obatan lainnya untuk menghilangkan reaksi buruk yang timbul pada dirinya. Dan hal ini menyebabkan denyut nadi menjadi cepat, serta akan menimbulkan paranoia dan halusinasi.

pecandu putaw

Saya adalah seorang mantan pecandu putaw* yang saat ini masih berada dalam proses pemulihan diri. Saya menempuh cara berobat jalan di salah satu klinik dokter spesialis kesehatan jiwa  (SpKJ) di kota dimana saya berdomisili. Sampai saat ini saya masih rutin memeriksakan diri di klinik dokter tersebut.
Ketika pertama kali saya datang untuk berobat, dokter bertanya alasan apa yang membuat saya datang ke kliniknya. Saya menjelaskan bahwa tujuan saya datang karena ingin mendapatkan pertolongan terkait masalah adiksi yang saya alami. Kemudian menjelaskan semua latar belakang saya sebagai seorang pecandu putaw selama hampir 10 tahun.
Saya sering sekali keluar-masuk panti-panti rehabilitasi, baik itu panti rehabilitasi medis atau tempat-tempat pengobatan dengan basis keagamaan seperti pondok pesantren. Bahkan saya juga menceritakan masa lalu saya yang pernah masuk penjara sampai 2 kali. Tapi semua hal yang pernah saya alami tersebut tidak membuat saya jera, karena di dalam penjara saya masih tetap dapat mengkonsumsi putaw. Dan ketika saya bebas dari penjara pada tahun 2007 lalu, saya masih tetap menggunakan putaw selama beberapa waktu.
Pertengahan 2008, saya memulai proses pengobatan dengan pemeriksaan fisik yang disertai konseling adiksi dan konseling kondisi psikis. Saat pertama kali saya berkonsultasi, dokter menyarankan saya untuk menggunakan terapi subtitusi opiat Buprenorfin selama beberapa waktu untuk mengurangi rasa sakaw*.
Ketika rasa sakaw sudah mulai berkurang, dokter memberi saya 2 macam obat yaitu Calmlet 2 mg dan Amitriptyline 25 mg sebagai pengganti terapi subtitusi Buprenorfin, dengan tujuan mencegah  saya mengalami ketergantungan Buprenorfin.
Selama saya menggunakan 2 macam obat tadi (Calmlet dan Amitriptyline), dokter selalu mengingatkan saya untuk mematuhi aturan yang diberikan. Ia  menekankan bahwa semua cara pengobatan dengan menggunakan jenis obat-obatan apapun, keberhasilannya tetap tergantung dari kemauan saya untuk pulih. Saya diminta taat terhadap aturan yang diberikan oleh dokter.
Alhamdullillah. Dengan mematuhi aturan yang diberikan oleh dokter, saat ini saya sudah dapat mengurangi dosis obat yang harus saya konsumsi setiap harinya. Saat ini saya hanya cukup mengkonsumsi 1 butir Calmlet dan 1 butir Amitriptyline setiap malam sebelum tidur. Sedangkan saat pertama kali saya berobat, pada minggu pertama saya membutuhkan 30 butir Calmlet dan 30 butir Amitriptyline perhari.
Keadaan ini berjalan sampai beberapa minggu hingga akhirnya saya mulai bisa mengurangi jumlah obat yang harus saya konsumsi. Saya mulai bisa mengontrol diri saya.
Yang awalnya saya harus berkonsultasi seminggu sekali, kemudian berkurang menjadi 2 minggu sekali dengan jumlah obat yang mulai berkurang secara bertahap. Hingga pada akhirnya saya hanya berkonsultasi sebulan sekali dengan jumlah obat yang juga disesuaikan, yaitu Calmlet 2 mg dan Amitriptyline 25 mg, masing-masing sebanyak 30 butir untuk keperluan sebulan. Dengan obat sejumlah itu,saya bisa bertahan selama sebulan dan dapat bekerja normal tanpa merasakan ada sesuatu yang “kurang” pada diri saya.
Jika model pengobatan yang sederhana ini bisa berhasil pada saya, saya berharap teman-teman yang masih menggunakan NAPZA dapat mulai mencoba untuk melakukan perubahan pada diri sendiri sekecil apapun itu.
Yakinlah bahwa hal terkecil sekalipun akan membawa menuju suatu perubahan nyata bagi diri sendiri.Dan tetaplah memegang komitmen pada perubahan yang sedang dilakukan. Semoga kisah saya bermanfaat bagi teman-teman pengguna NAPZA dimanapun berada